Orang Hebat

untuk menjadi orang yang berguna tidak harus menjadi orang yang hebat

Nah lo.. aku gak tau knapa tiba-tiba pesan itu nyasar di inboxku. Aku memang dekat dengan L, tidak secara pribadi tapi hanya secara umum. Entah bagaimana kadang-kadang pertautan jiwa bisa terbentuk dengan sendirinya saat kita menemukan orang-orang yang kita anggap ‘sejiwa’ dengan kita. Padahal tanpa interaksi secara pribadi. Seperti aku dan L. Aku tak pernah mengenalnya lebih dari sekedar tulisan-tulisannya yang sering kubaca. Begitu pula sebaliknya. Kalo akhirnya kami merasa saling mengenal dan berteman, hal itu terbangun dengan sendirinya lewat komen-komen yang sering kami berikan di blog masing-masing. Beberapa kali memang ada obrolan secara pribadi lewat pm, tapi tidak pernah lebih dari sekedar say hello ato bertanya seputar pekerjaan dan domisili. Selebihnya tidak ada. Aku pun tak begitu mengerti bidang pekerjaannya dengan jelas. Kalau tidak salah dia tinggal di hutan, atau dekat hutan. Mungkin petugas kehutanan, atau bisa juga berkaitan dengan lingkungan. Entahlah. Aku enggan menanyakan lebih jauh karena menyangkut privacy. Yang kutau, kami mempunyai kecintaan di bidang yang sama. Sama-sama mencintai sastra.

Maka ketika pesan itu sampai di inboxku, aku sempat mengeryitkan dahi. Hal pertama yang kulakukan adalah langsung mengingat-ingat tulisanku yang mana yang sekiranya membuat dia bisa menyimpulkan sifatku seperti itu. Hmm.. dengan kata lain, bukankah dia mau bilang kalo aku ini terobsesi untuk menjadi orang hebat? Karena dia tidak begitu mengenalku secara pribadi, bisa dipastikan kalo pendapat itu dia dapat dari membaca tulisan-tulisanku, pemikiran-pemikiranku dan opini-opiniku.

Aku tau kalo kepribadian seseorang bisa terlihat dari tulisan-tulisannya. Tapi tetap saja bagiku terlalu naïf jika kita hanya menilai seseorang dari tulisan-tulisannya saja. Bukankah setiap orang punya tujuan masing-masing dalam menulis? Apalagi kalo hal itu menyangkut sebuah karya, tentu tidak semuanya adalah pengalaman pribadi penulisnya. Bisa saja tulisan itu hanyalah fiksi atau bahkan sekedar metafora. Dan itulah yang selalu kusebut sebagai seni dalam menulis. Seni sastra.

Jadi, mengenai orang hebat yang disebut L, sebenarnya aku tidak pernah merasa kepengen menjadi orang hebat. Tapi entahlah jika beberapa tulisanku seolah-olah berkata seperti itu. Dan sebagai pembaca, L berhak membuat persepsi apapun atas apa yang dibacanya.

Advertisements

~ by desinta wp on 26/03/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: