Menikah, Siap ato Tidak siap?

wedding

Dulu, ketika usiaku masih semuda Kiko ato seaktif Nana, aku juga sering berkata: bagiku menikah itu seperti pluto, planet terjauh dari bumi. Menikah rasanya menjadi hal yang paling jauh dariku, bahkan tak terjangkau oleh pikiranku sekalipun. Bukan karena tidak minat ato tidak ingin, tapi seperti kata Nana juga, kurasa semua itu hanyalah soal prioritas. Maka aku pun tak pernah tertarik punya pacar. Alasannya, belum pengen menikah jadi belum perlu pacaran.

Baru setelah menginjak usia 21 taun, untuk pertama kalinya aku membuka diri dan menerima kehadiran seorang cowok sebagai pacar. Alasannya pun simpel, sebab aku kepengen menikah di usia 23, jadi 2 taun kupikir waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri sekaligus menyiapkan seorang calon suami yang ideal dan calon ayah yang baik bagi anak-anakku kelak. Pikirku pun naif saat itu, aku pengen pacar pertamaku itu yang menikah denganku. Tapi siapa yang menyangka kalo ‘menemukan cowok baik-baik’ di abad 21 ternyata tidaklah mudah. Selama satu tahun aku terpaksa ganti pacar 3x 😀 Dan usia 23 tahun pun lewat begitu saja. Tak ada pernikahan seperti yang dulu kubayangkan. Yang ada aku justru makin sadar, menemukan ‘calon suami yg tepat’ ternyata tidak gampang. Belum lagi masalah jodoh yang wallahualam. Menikah pun menjadi sebuah misteri bagiku. Kapan dan dengan siapa adalah pertanyaan yang tak pernah bisa kujawab sampai sekarang.

Lalu salahkah aku jika merasa tersinggung ketika ditanya, ”udah siap nikah ato belum?” setelah usaha kerasku selama ini? Seolah-olah kredibilitasku sebagai calon istri dan calon ibu begitu diragukan. Seolah-olah niat dan naluri yang menuntunku pada kerinduan tentang pernikahan hanyalah sebuah syndrom dari tekanan orang tua, lingkungan ataupun desakan usia. Realita yang banyak dialami oleh cewek seusiaku.

Aku memang sudah seperempat abad, tapi jujur saja aku masih merasa cukup muda untuk terlalu resah atas alasan-alasan umum tersebut. Tapi aku pun tidak membantah jika harapan orang tua tentu menjadi salah satu pertimbangan dalam urusan pernikahan. Jadi, kalo aku bisa membahagiakan orang tua, memenuhi kewajiban sosial, menggenapkan agama sekaligus berkesempatan mempunyai keluarga dan menjadi seorang ibu, dan semuanya itu bisa aku dapatkan dalam satu paket yang bernama ‘pernikahan’, kenapa harus tidak siap??

di post ulang dari mobinessia 31 maret 2009

Advertisements

~ by desinta wp on 27/05/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: