Rahasia Viena

jilbab

Kamu itu sudah 23 tahun, Vien!”

Iya, Mam. So what?

Vien tetap menekuni majalah di depannya. Asyik membolak-balik lembar demi lembar tanpa mempedulikan keresahan yang jelas tergambar di raut wajah mamanya.

Kamu sudah sarjana, sudah bekerja,” kata mamanya lagi sambil menyeruput secangkir kopi susu, sekedar untuk meredakan emosinya sendiri.

Iya, Mam,” Vien masih tetap santai.

Apa kamu belum berpikir tantang pasangan hidup?

Jodoh itu di tangan Tuhan kan, Mam? Kalau sudah tiba saatnya pasti juga datang sendiri. Gitu kan, Mam?

Tapi, Vien..

Udah ah,” Vien menutup majalahnya. Ia paling malas kalau sudah disinggung soal itu. Tapi sebelum beranjak, ia sempat menggenggam tangan mamanya dan berbisik, “Katanya Tuhan menciptakan setiap makhluknya berpasang-pasangan. Jadi jangan kuatir, Mam, suatu saat Vien pasti juga punya pasangan. Sekarang Vien mo bobo dulu. Capek!” katanya sambil bangkit.

Vien..” jerit mamanya tertahan.

Tapi Vien sudah melesat ke kamarnya, hilang di balik pintu.

Di dalam kamar, Vien termenung sendiri. Sudah berapa temannya yang terperangah tak percaya saat ia mengatakan sama sekali belum pernah punya pacar.

Gila lo! Segede ini lum pernah pacaran? Yang bener?!” Itu komentar Lita, sahabat dekatnya di kampus, tiga tahun lalu saat mereka masih duduk di tingkat pertama.

Komentar Adi lain lagi.

Kok bisa sih, Vien? Kamu kan cantik, menarik. Tinggal senyum dikit cowok-cowok pasti…” tapi cowok itu tak berani melanjutkan kata-katanya. Malah ada yang berkomentar lebih ekstrim lagi.

Kamu terlalu pilih-pilih mungkin. Bisa-bisa nanti kamu malah nggak dapat cowok lho. Jadi perawan tua!

Begitulah. Banyak sekali komentar yang berbeda-beda tentang keanehannya itu. Aneh, karena memang nggak lazim untuk ukuran anak muda jaman sekarang. Teman- temannya sudah bergonta-ganti pacar, bahkan banyak yang sudah mulai pacaran sejak duduk di bangku SD. Tapi semua itu tak pernah membuat Vien kepincut ingin ikut-ikutan. Menurutnya, mempunyai banyak sahabat jauh lebih menyenangkan dan bisa memperluas pergaulan ketimbang terikat dengan seorang cowok saja.

Tapi bukan berarti Vien tak mau pacaran makanya ia enjoy dengan predikat jomblonya. Hanya saja ia merasa belum menemukan seseorang yang benar-benar cocok seperti apa yang di harapkannya.

Kriteria cowok impian kamu seperti apa sih?” Pernah Lita bertanya satu waktu. Mungkin dia penasaran karena hampir tiap di dekati cowok Vien selalu menolak. Padahal banyak dari mereka yang cakep dan berasal dari keluarga the have. Tapi tetap tak mampu membuat Vien bergeming. Malah sikap cueknya sering membuat cowok-cowok itu keder dan memilih untuk mundur secara teratur.

Yang bisa ngajarin aku ngaji.

Upps..” Lita pengen ketawa, tapi segera menutup mulutnya dengan tangan. “Ustadz maksud kamu?

Memangnya yang bisa ngajarin ngaji cuma ustadz?!” Vien malah mendelik kesal.

Lha trus?

Pokoknya dia harus bisa jadi imam yang baik untuk keluargaku kelak.”

Vien menarik napas. Bayangan papa dan mamanya melintas di benak. Papa yang cuek dan jarang di rumah. Mama yang sibuk dengan urusan ini itu. Sejak SD ia tak lagi asing dengan pertengkaran kedua orang tuanya. Dan tak ada yang tahu, kalau Vien sering menangis diam-diam di dalam kamarnya. Sendirian, dan ketakutan.

* * *

waiting for the ending…

Advertisements

~ by desinta wp on 27/05/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: