Menjadi Penulis

Siapakah yang pantas dan layak disebut sebagai penulis?

Menurut Jonru, setiap orang yang punya minat menjadi penulis (tak peduli apakah dia sudah menulis ribuan naskah atau belum pernah menulis satu karya pun), sudah sangat layak disebut sebagai penulis. Setiap orang boleh mengaku sebagai penulis, tak ada yang melarang.

Hehe.. memang benar setiap orang boleh mengaku dirinya sebagai penulis. Tak ada yang melarang, tapi mungkin akan ada yang menertawakan jika tiba-tiba seseorang menyebut dirinya sebagai penulis, sementara orang lain belum pernah sekali pun melihat hasil tulisannya, minimal di mading, blog ataupun tersebar secara indie dari satu tangan ke tangan yang lain. Seseorang yang punya minat untuk menulis dan menjadi penulis tapi sama sekali tidak pernah merealisasikan minatnya tersebut, saya rasa juga belum pantas disebut sebagai penulis. Bukan apa-apa, tapi saya hanya sedang mencoba membandingkan dengan diri saya sendiri. Saya menyukai menulis, kalo bisa juga kepengen menjadi penulis, tapi rasanya saya masih tidak pantas menyebut diri saya sebagai penulis sementara saya sendiri sama sekali tidak produktif dalam menulis.

Pada jaman dahulu kala, saya pernah punya definisi sendiri mengenai seorang penulis. Waktu itu saya masih remaja, dan kebetulan tulisan-tulisan saya yang berupa puisi sudah lumayan banyak tersebar dari mulai di mading sekolah hingga jadi koleksi pribadi beberapa teman saya yang menyukai puisi saya atau sengaja memesan puisi untuk kepentingan tertentu. Waktu itu hampir semua teman saya tahu kalau saya suka menulis terutama puisi. Bahkan ada yang pernah menyarankan untuk mengirimkan puisi-puisi tersebut ke radio untuk dibacakan. Saya tidak tahu bagaimana teman-teman menyebut saya. Dan saat itu pun, kegiatan menulis hanya sekedar sebuah hobi buat saya. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menjadikannya sebuah profesi, atau tepatnya, tidak ada keinginan untuk menjadi penulis dan disebut sebagai penulis.

Hingga dengan bertambahnya waktu, ketertarikan saya dalam bidang menulis pun juga bertambah. Dari sekedar hobi menjadi sebuah keinginan untuk mendalaminya dengan serius. Saat itulah saya mulai berpikir untuk menjadikan menulis sebagai kegiatan tetap dalam hidup saya. Dan saat itulah, saya mulai tetarik untuk membangun sebuah eksistensi dalam bidang ini. Bukan apa-apa sih, tapi saya hanya ingin mencoba merealisasikan kecintaan saya dalam menulis. Saya ingin membuktikan bahwa saya memang serius dalam menulis. Dan saya sadar, apa yang saya butuhkan adalah publikasi. Hanya dengan publikasi orang lain akan mengakui keterlibatan saya dalam bidang menulis.

Sejak itulah, saya mulai berusaha untuk melirik media. Tujuannya jelas, sebuah publikasi atau pengakuan bagi tulisan saya. Dan waktu itu, definisi penulis bagi saya sangatlah sederhana. Jika seseorang mampu mempublikasikan tulisannya meski hanya satu kali saja, maka dia sudah bisa disebut sebagai penulis untuk selamanya. Yang penting dia sudah mampu membuktikan bahwa dirinya eksis dan ada media yang mengakuinya.

Jadi menurut saya, predikat penulis tidak bisa kita berikan pada diri kita sendiri, melainkan diberikan oleh media lain atau orang lain. Dan tentang saya sendiri, meskipun beberapa kali cerpen saya pernah dimuat di media massa, saya tetap merasa bukan penulis yang sebenarnya. Bisa jadi saya hanya pantas disebut sebagai pemula. Adapun pertanyaan-pertanyaan dari beberapa teman seputar “kapan menulis lagi?” atau “pengen membaca karya kamu lagi”, saya anggap sebagai  apresiasi bagi tulisan saya. Setidaknya, ada orang lain yang sudi membaca karya-karya saya, selain saya sendiri.

nb : tulisan ini saya buat tanpa bermaksud untuk menolak opini bapak Jonru, melainkan sekedar untuk menyemangati diri saya sendiri ^^

Advertisements

~ by desinta wp on 02/10/2009.

2 Responses to “Menjadi Penulis”

  1. Pak Jonru pun menulis seperti itu untuk menyemangati banyak orang, terutama mereka yang terpancang pada status “Penulis” sebagai orang yang ‘wah’ yang membuat mereka menciut bahkan sebelum menghasilkan karya sungguhan. Menurutku itu cuma rangsangan agar seseorang berani menulis saja.

    Mengutip kalimat saya sendiri *halah* “Tidak ada kecambah yang langsung menjadi pohon tinggi tanpa disirami”. Begitu juga tidak ada skill yang langsung sempurna tanpa di asah, maka dengan mensugesti diri sendiri sebagai seorang penulis (sekalipun belum menampangkan tulisannya di media massa) adalah sebuah cara untuk benar-benar menjadi penulis yang sebenarnya.

    Wkwkwkwk sok tau banget aku… *diantem keyboard sama Lala*

    Like

  2. xixi i know.. i know.. makanya aku kasih nb xexe.. aku tau itu wat nyemngatin mereka2, tp kalo itu wat aku.. wedew.. bukannya semangat malah tambah males xixixi.. *lempar keyboard rusak ke nana* 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: