Honor

Akhirnya, hari ini kuberanikan diri juga untuk pergi ke redaksi. Pagi sekitar jam sepuluh tadi aku meluncur sendirian ke redaksi Minggu Pagi untuk mengambil honor cerma Siluet Senja, setelah honor dua cerpen sebelumnya kubiarkan begitu saja. Kali ini aku memang sudah bertekad akan ke redaksi. Bukan masalah honornya, tapi mengingat dua kali sebelumnya aku tak berani mengambilnya, kali ini sudah kuputuskan untuk menepis ketakutan itu. Selain karena rasa takut seperti itu sudah tidak pantas untuk seseorang yang berumur seperempat abad seperti aku, aku pun tak punya alasan lain yang perlu kurisaukan. Dulu aku enggan kesana karena enggan bertemu Mr. L, salah satu wartawan Minggu Pagi yang pernah kukenal. Rasanya malu saja harus bertemu dengan seseorang dengan jam terbang seperti dia, meskipun ada yang bilang itu bodoh dan konyol. Dan seiring berjalannya waktu, aku yakin dia sudah tak ingat padaku. Jadi jika kami bertemu pun, aku yakin dia sudah tak mengenaliku lagi.

Sesampai disana, seperti yang sudah kurencanakan dari rumah, aku pun bertanya kepada pak satpam dimana letak bagian keuangan. Beruntung sebelumnya aku sudah ditanyai oleh tukang parkir maksud tujuanku kesitu. Dan begitu kusebut bagian keuangan, bapak itu langsung menunjukkan arahnya. Baru setelah masuk halaman dan melihat pos satpam, kuperjelas lagi letak bagian keuangan tersebut. Sesampai di depannya pun aku masih memperjelas lagi dengan bertanya pada bapak-bapak yang ada di ruang foto copy sebelahnya. Soalnya ruangan yang bertuliskan keuangan itu pintunya tertutup, jadi aku tidak berani langsung masuk. Ternyata memang ditutup begitu. Dan akhirnya untuk pertama kalinya aku pun menginjakkan kakiku di bagian keuangan kantor penerbitan KR dan MP xexe..

Setelah berada di dalamnya dan menunggu proses, tiba-tiba aku pun merasa menjadi begitu bodoh memikirkan ketakutanku selama ini. Berada di ruangan itu rasanya tak akan membuatku bertemu dengan Mr. L. Kemungkinannya pun barangkali hanya sepersekian juta persen. Dan aku sendiri sudah pernah diberitahu jadwal kerjanya, tiga hari di luar meliput berita dan tiga hari di redaksi menyiapkan penerbitan. Jadi jika hanya ingin menghindari pertemuan dengannya, mustinya aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Fyuh.. benar-benar bodoh!

Alhasil, akhirnya aku menikmati juga acaraku hari ini. Untuk pertama kalinya aku menerima honor  dari hasil menulisku dengan tanganku sendiri. Jumlahnya memang tak sampai ratusan ribu, tapi rasanya sudah cukup untuk sebuah cerpen yang kubuat kurang dari satu jam. Akupun berhasil menuntaskan rasa penasaranku akan nasib honor-honorku yang terdahulu, meski belum mendapat jawaban pasti. Aku maklum, secara honor itu sudah sejak tahun 2005 dan 2006 xexe.

Setidaknya, hari ini aku berhasil mengalahkan ketakutanku sendiri.. ^^

Advertisements

~ by desinta wp on 04/11/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: