Write First, Think Later

menulis

Hari ini, aku kembali mempelajari sesuatu, bahwa menulis sebuah fiksi itu memang tidak mudah. Apalagi jika inspirasinya hanya dari secuil kalimat dan harus dikembangkan menjadi sebuah karangan lengkap yang layak disebut sebagai cerpen, ternyata memang susah. Sudah beberapa hari ini aku membuat cerpen yang terinspirasi dari sebuah kalimat andai aku bisa memutar waktu, tapi belum kelar-kelar juga. Dan hal ini sering banget aku alami. Salah satunya karena aku kehilangan mood untuk menyelesaikannya. Kenapa? Sebab aku merasa hasilnya berbeda jauh dari apa yang terbayang sebelumnya. Pengennya membuat cerita yang easy reading, tapi jadinya malah berat banget. Korelasi antara prolog dengan ending rasanya juga tidak pas. Terpaksa akhirnya ku delete juga tulisan yang sudah tiga per empat jadi itu.

Ngomong-ngomong tentang easy reading, aku memang lagi kepengen nulis cerita-cerita yang bahasanya sederhana. Tidak berat dan tidak terlalu serius. Bukan berarti cerita yang asal tulis saja sih, tapi aku kepengen sedikit merubah gaya tulisanku yang katanya selalu melow. Selama ini pun aku selalu bikin cerita-cerita yang sad ending atau endingnya menggantung tapi tetap tidak happy ending. Mungkin karena pengaruh moodku juga yang sering nulis kalo lagi senewen dan sedih, akhirnya jadilah tulisan-tulisan melow seperti itu.

Selama ini aku memang terbiasa menuruti mood dalam menulis. Mungkin karena awalnya menulis itu sekedar bakat nyasar dalam diriku, aku pun tidak begitu memprioritaskan pengerjaannya. Kalau pas ada inspirasi lewat ya menulis, kalau enggak ya enggak. Biasanya aku hanya menuangkan hasrat yang melintas di benak. Dan jika hasrat seperti itu tidak ada, aku pun tidak memaksa untuk melakukannya. Sebab dipaksa seperti apa pun hasilnya tidak akan maksimal. Yang paling terasa sih, aku merasa kehilangan jiwa dalam tulisan-tulisanku.

Meski seseorang pernah bilang aku ini tidak profesional karena hanya bisa menulis dengan hati, aku tidak peduli. Aku tetap percaya sesuatu yang didasari dengan hati pasti lebih bagus hasilnya. Aku memang moody. Yes, i am. Dan aku lebih suka menulis saat aku pengen menulis. Membiarkan semua ide mengalir begitu saja sampai tuntas. Tak perlu kuatir aku hanya menulis asal-asalan, sebab dari dulu aku punya penyakit suka membaca tulisanku sendiri berulang-ulang sebelum aku berani menunjukkannya pada orang lain. Tak jarang aku bahkan sampai hapal di luar kepala karena terlalu seringnya aku baca ulang. Saat membaca ulang itulah aku menemukan bagian mana yang perlu direvisi, ditambah atau dikurangi. Pokoknya write first, think later. Tulis dulu apa yang melintas di benak, baru pikir-pikir lagi apa tulisannya sudah bener hehe. Kayak kata Camel Bird; awalilah menulis dengan hati, setelah itu baru perbaiki dengan pikiran.

Advertisements

~ by desinta wp on 10/11/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: