Diam

: mengenang bayu

Kita terbiasa diam
meski seribu satu kata ingin terucap
meski seribu satu makna ingin terungkap
tapi kita lebih suka diam
walau rasa itu mengetuk nurani
walau asa itu menghunjam peri
tapi kita tetap bertahan pada keangkuhan hati
yang selama ini kita junjung tinggi

Bahkan saat perpisahan menjemput
kita hanya bisa terpaku diam
diam dan tetap diam

~ 2001 ~

Advertisements

~ by desinta wp on 17/02/2010.

3 Responses to “Diam”

  1. Tetapi sm0ga…
    Bukan hanya diam yg dapat kita perbuat…puisi yg sangat menarik,salam kenal

    Like

  2. yup.. tidak selamanya diam itu emas xexe.. thanks sudah mampir, salam kenal jg ^^

    Like

  3. bagus puisinya…..
    mewakili perasaan ku nih…. terkadang memilih diam jika ada masalah…
    salam kenal,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: