Haruskah Kita Berubah

: boys dont cry

Tidakkah kau merindukanku?
Seperti aku merindukan senyummu yang rekah di kilau temaram senja itu
Begitu teduh matamu, seteduh sorot matahari yang jatuh di atas daun katu
Mungkin, tak perlu hitungan detik dan waktu, toh malam juga yang kan mengubur senyummu
menampar mimpi yang hadir sejak minggu lalu

Aku bercermin pada secangkir kopi yang mustinya kuhirup pagi hari
Memandangi seraut kenangan dengan kau di dalamnya
Kita pernah mengisinya dengan tawa, dengan canda dan terkadang caci maki
Lalu aku menangis di penghujung malam yang sepi, mendamba pagi terbangun dan kita lupa pernah saling emosi
Jaman telah banyak berubah kini, haruskah semua juga berubah,
haruskah kita berubah
Lalu bagaimana kau pandang aku? Seperti ilalang itu?
Atau seperti anak kost teman sekampusmu dulu?
Tapi aku tak pernah jadi pacarmu..

Aku juga bukan mantan kekasihmu
Lalu kenapa harus kau bangun jembatan yang membentang di antara garis tipis senyummu dan kenyataan
yang membuatku lemah terhadap masa lalu
Di antara kita pun sudah terbangun tembok kokoh yang tinggi
yang bahan bakunya terbuat dari rasa ragu dan sekeping rasa sepi

Tidakkah kau ingin merobohkannya dengan sebuah persahabatan sejati?
Aku merindukanmu kini, merindukan canda dan gelak tawa yang pernah mengisi malam sunyi
Dan aku sudah lelah menunggu kau
menghitung waktu meraba haru tuk sekedar jawab tanyaku

Tidakkah kau merindukanku(juga)?

~ Mei 2004 ~

Advertisements

~ by desinta wp on 17/02/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: