Ilalang

Image

Sudah satu minggu ini, Dina hanya mengurung diri di kamar. Bukan karena sedang marah atau ngambek, tapi karena kaki kiri Dina memang sedang patah dan di gibs sampai lutut akibat sebuah kecelakaan motor yang dialaminya seminggu yang lalu.

Pada awalnya, Dina menganggap hal itu bukan sebagai sesuatu yang buruk. Ia justru merasa bisa beristirahat dari semua kegiatan rutin di kampus dan tugas-tugas kuliah yang tak pernah habis. Dia pun jadi merasa punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dulu tidak sempat ia lakukan. Seperti main gitar kesayangannya, atau menulis puisi dan cerpen hobinya. Kalau sedang tidak ada mood untuk main gitar, atau sedang tidak ada inspirasi yang bisa ia tuangkan ke dalam puisi atau cerpen, ia bisa melamun. Merenung. Introspeksi diri, siapa tahu ia punya banyak hal yang harus diperbaiki di masa lalu. Makanya, waktu beberapa hari yang lalu Putri menelponnya dan menanyakan kabarnya, ia sama sekali tidak menyesali keadaannya.

“Kamu pasti kesepian!” kata Putri sambil tertawa halus. Entah bersimpati, atau malah mau menyindir.

“Tidak,” bantah Dina saat itu.

“Tapi kamu bilang kamu lebih sering sendirian!”

“Sendirian tidak berarti kesepian. Dan sepi juga tidak selalu datang saat kita sendiri. Ada kalanya sepi datang justru saat kita berada di tengah keramaian.”

“Ah…” suara yang di sebrang sana tertawa. Mungkin kali ini ia benar-benar menyindir dan sekarang disana bibirnya yang tipis itu sedang mencibir.

Tapi Dina diam saja. Ia jadi teringat percakapannya dengan Yudha saat mereka sedang nonton pertandingan basket di lapangan di dekat kampus.

“Kamu lihat ilalang itu?” tanyanya waktu itu sambil menunjuk batang-batang ilalang yang tumbuh di pinggir lapangan.

“Kenapa?” tanya Yudha waktu itu tak mengerti.

“Bagus nggak?”

“Jelek!” Yudha tertawa terkekeh-kekeh.

“Ilalang memang nggak bagus. Semua orang bisa melihat itu.” kata Dina menimpali.

“Iya, lalu kenapa?”

“Kadang aku merasa seperti ilalang itu. Hanya sebuah rumput liar, tumbuh dengan liar. Tak akan pernah membuat orang lewat tertarik untuk berpaling. Tapi ilalang bisa tumbuh dimana saja dan tak kenal musim. Saat kemarau panjang pun, ia masih tetap bisa bertahan. Bahkan angin topan tak akan mematahkan batangnya. Tapi tahu nggak?”

Yudha mengeryitkan keningnya, tanda bertanya.

“Suatu saat pun, ilalang juga berbunga. Meskipun bunganya tak kan seindah bunga mawar dan tidak menebarkan wangi, tapi bunga ilalang tak akan pernah kering dan layu. Seperti edelweis yang dijadikan simbol cinta.”

“Kata-katamu bagus. Belajar dari mana?” hanya itu komentar Yudha saat itu. Entah sungguh-sungguh, atau cuma mau menyindir. Yang pasti cukup membuat Dina diam dan tak bicara lagi soal ilalang. Pada Yudha, atau pada siapapun.

***

“Selama sakit, kamu ngapain aja?” tanya Putri, saat menelpon lagi lain waktu.

“Nggak ngapa-ngapain. Di kamar aja.”

“Nggak bosan?”

“Tidak.”

“Benar?”

Ditanya seperti itu, Dina diam sebentar. Mendesah pelan.

“Mungkin lebih cenderung kesepian, dari pada bosan. Nggak ada teman disini.”

“Katanya kamu tidak kesepian.”

Dina pun kembali diam, tak menjawab. Ia sendiri tak mengerti. Ada kalanya ia merasa begitu damai saat sendiri. Di dalam kesendirian itu, ia bisa banyak melihat dirinya sendiri. Lebih ke dalam ‘jiwanya’, bukan sekedar penampilan fisik. Bahkan saat sendirian ia bisa lebih memahami tentang Tuhan yang mungkin kadang ditanggalkannya dari hati saat ia berjalan-jalan di mall atau berjam-jam chatting di warnet hingga membuatnya melupakan kewajiban memenuhi panggilan adzan. Dalam kesendirian, Dina merasa menemukan ‘Dina yang benar-benar Dina’. menemukan makna hidup dan tujuan hidupnya.

Tapi kadang, Dina memang merasa kesepian. Menyadari bahwa selama ini waktunya lebih banyak dihabiskannya sendirian daripada berkumpul dengan teman-temannya. Kalau mau dihitung, koleksi buku-bukunya lebih banyak ketimbang sahabatnya. Karya-karya puisinya lebih banyak dari pada kata-kata yang dipercakapkannya dengan orang lain. Dan syair-syair lagu yang dihapalkannya juga lebih banyak ketimbang nama teman-teman yang diingatnya di kampus.

Dina memang senang membaca. Senang menulis puisi. senang menyanyi. Senang musik. Tapi buku-buku kadang membuatnya bosan. Puisi-puisi membuatnya jengah dan lagu-lagu tak lagi membuatnya tertarik untuk memetik gitar. Kadang Dina juga ingin mengobrol dengan ayahnya, curhat dengan ibunya atau bercanda bersama adiknya. Tapi ayahnya selalu bekerja. Pergi pagi, pulang sore dan Dina tidak tega mengusik kelelahan ayahnya. Ibunya terlalu sibuk dengan TK-nya dan semua kegiatan-kegiatan sosial di kampungnya. Adiknya? Apalah yang bisa ia lakukan dengan anak berumur sepuluh tahun itu? Paling-paling cuma rebutan channel tivi, yang akhirnya membuatnya dimarahi ibunya karena dianggap tidak bisa mengalah dengan anak yang lebih kecil.

Yah, sebenarnya Dina memang merasa kesepian. Bukan hanya saat ini, saat ia hanya terpuruk dengan satu kaki kiri yang patah yang membuatnya hanya bisa mengurung diri di kamar. Tapi sudah sejak dulu, jauh sebelum dia mengenal arti kata ‘kesepian’ itu sendiri. Jauh sebelum ia mengenal arti kata sakit hati dan kecewa. Jauh sebelum ia mengenal mall dan warnet yang sekarang bisa dijadikannya tempat membuang rasa sepi saat ia sendiri. Atau jauh sebelum ia bisa menulis puisi, sekedar untuk menuangkan perasaan yang tak pernah bisa diceritakannya pada ayahnya, ibunya ataupun adiknya yang belum tahu apa-apa itu. Jauh sebelum ia menyadari, bahwa dirinya tak pernah lebih dari sekedar ilalang.

Di tengah kamarnya yang sunyi itu, Dina menangis. Menangis sejadi-jadinya. Tak bersedih, hanya menyesali keadaannya. Kenapa ia begitu liar?

***

Minggu Pagi, 1 Desember 2002

————————————————————————————————————————————————————————

Sekilas tentang Ilalang :

Cerpen ini adalah cerpenku yang pertama dimuat di media massa. Bukan cerpen yang pertama kukirim ke majalah, sebab aku ingat saat smp pernah mengirim cerpen anak-anak ke majalah Bobo, yang entah sampai atau tidak, karena hanya kucemplungkan di bis surat pinggir jalan yang masih dibuka oleh pak pos atau tidak. Dan waktu sma aku juga pernah sekali mengirim cerpen remaja ke majalah Kawanku, tapi dikembalikan dengan alasan belum layak muat hehe 😀

Cerpen ini kubuat saat aku masih berumur sembilan belas tahun. Saat itu aku baru saja menyelesaikan program kuliah satu tahun, dan sempat krisis jati diri karena bingung hendak melanjutkan hidup kemana. Ingin melanjutkan kuliah lagi di universitas atau langsung kerja saja. Cari duit, biar bisa mandiri. Saat itu, aku sendiri belum tertarik seratus persen untuk kuliah. Alasannya, tidak tau harus masuk jurusan apa. Baru setelah bertemu dengan teman sehati dan tentor Bahasa Inggris di Infikom, kuputuskan kalau kuliah ambil jurusan English Letter aja. Pertimbanganku sederhana, karena aku suka bahasa. Kenapa waktu itu tidak terpikir untuk ambil jurusan Sastra Indonesia ya? Hehe entahlah.

Dan ada cerita tersendiri di balik cerpen Ilalang ini. Waktu itu, hampir selama sebulan kegiatanku hanyalah keluar masuk warnet dan rental komputer untuk mengerjakan tugas akhir. Kebetulan tugas akhir yang mustinya berkelompok minimal dua orang, terpaksa kukerjakan sendiri karena temanku sudah mudik ke NTT dan hanya urun duit serta nama saja. Lalu kemudian muncul satu teman cowok yang entah karena apa kehilangan kelompoknya dan akhirnya kurekrutlah di kelompokku dengan prosedur yang sama: urun duit serta nama saja 😀

Setelah tugas akhir selesai, aku tetap sering keluar masuk warnet dan rental komputer dengan alasan yang sangat jelas, tidak punya pekerjaan. Dan cerpen Ilalang ini adalah cerpen yang kubuat dengan instan atau sekali tulis di rental komputer, lalu ku print. Keluar dari rental aku langsung menuju kantor pos, mengirim cerpen ini ke surat kabar lokal. Ada satu taruhan hidup saat aku memutuskan untuk mengirim cerpen ini. Taruhannya, jika cerpen ini nanti dimuat aku akan berusaha melanjutkan kuliah. Tapi jika cerpen ini tidak dimuat, baiklah aku cari kerja saja karena mungkin aku memang tidak punya bakat dalam menulis sastra.

Lalu segalanya seperti terjadi begitu saja. Aku kemudian melamar bekerja di sebuah perusahaan di Batam. Selama hampir dua minggu sibuk tes, interview hingga cek fisik, sampai akhirnya aku lolos dan berangkat pada akhir bulan Desember 2002.

Setelah sebulan bekerja di Batam dan mendapat gaji pertama, kukirimlah surat untuk ibuku. Dan surat balasan ibu sungguh mengejutkanku. Ibu bilang, dua hari setelah aku pergi, datang sebuah wesel dari Minggu Pagi, untukku. Ibu bilang, dengan nada sangat bahagia, “aku tak tau apa yang kamu kirim. cerpen, puisi atau artikel. tapi kamu hebat, soalnya sejak dulu aku sering ngirim tulisan ke surat kabar tapi tidak pernah berhasil…” Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Ibu memandangku dengan kedua matanya, justru saat aku berada jauh beribu-ribu mil jaraknya.

Dan tentang pertaruhan hidupku tadi, aku tak tau ini sebuah ironi atau bukan. Tapi barangkali aku sendiri yang salah. Andai saja saat itu aku rutin membeli surat kabar untuk mengecek cerpen yang kukirimkan, barangkali belum terlambat untuk mengambil langkah yang seharusnya.

***

Advertisements

~ by desinta wp on 30/04/2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: