May 31th, Quit Facebook Day?

•28/05/2010 • Leave a Comment

Apa perbedaan antara Facebook, Mobitrek, Prodigits, Twitter, Friendster dan situs jejaring sosial yang lainnya? Jujur saja, bagi saya tidak ada bedanya. Sama-sama hanya sebuah situs di dunia maya tempat kita bisa bersosialisasi dengan banyak orang, entah kita kenal sebelumnya atau tidak. Hanya karena perkembangan Facebook menjadi begitu pesat dan sangat populer di berbagai kalangan masyarakat dari yang sudah akrab dengan internet sejak dulu hingga yang masih awam sama sekali, Facebook menjadi terkesan berbeda. Saya telah banyak melihat bagaimana anak-anak sekolah mulai dari SD hingga SMU bahkan mahasiswa, berbondong-bondong ke warnet setiap hari hanya untuk Facebook-an. Tak  jarang juga ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapak yang meminta untuk dibikinin Facebook, sambil bertanya dengan polos, Facebook dan internet itu sama nggak? Pertanyaan itu sudah cukup menunjukkan bahwa masih banyak  pemilik akun Facebook yang sebenarnya tidak atau belum paham apa itu Facebook. Yang ada di pikiran mereka barangkali hanyalah mengikuti tren, menjadikan Facebook semacam identitas agar tidak dibilang ketinggalan jaman.

Lalu mulailah bermunculan masalah-masalah yang berkaitan dengan Facebook. Tentu kita sudah mendengar beberapa kasus kejahatan yang katanya disebabkan oleh Facebook, mulai dari penculikan abg, pencurian sepeda motor, pembunuhan seorang istri oleh suaminya karena mengubah status hubungannya menjadi single hingga kasus Anthony Stancl yang berakhir di penjara karena menyamar sebagai cewek di Facebook dan meminta teman-teman cowoknya untuk mengirimkan foto telanjang kepadanya. Mungkin masih banyak sekali kasus kejahatan lain yang ditimbulkan oleh adanya Facebook, hingga banyak orang mulai meresahkan keberadaan Facebook dalam kehidupan kita dan merasa perlu untuk menyingkirkannya. Dan puncaknya adalah sekarang, dengan dibuatnya sebuah situs bernama Quit Facebook Day sebagai media kampanye untuk menyerukan penghentian penggunaan akun Facebook mulai tanggal 31 Mei besok. Di situs itu, Matthew Millard dan Joseph Dee mengatakan bahwa facebook tidak menghormati kita dan data kita, sebagai salah satu alasan kenapa harus menghapus akun Facebook.

Continue reading ‘May 31th, Quit Facebook Day?’

Advertisements

The Lost Symbol, Sebuah Kitab yang Hilang

•23/05/2010 • Leave a Comment

Sebenarnya saya tidak pandai mereview apalagi membuat resensi sebuah buku. Tapi kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang novel terbaru Dan Brown, penulis Amerika yang sudah berhasil membuat saya kepincut dengan karya-karyanya. Setelah Digital Fortress, Angels and Demons, Deception Point dan The Da Vinci Code, tahun 2009 kemarin Dan Brown kembali menerbitkan novel baru berjudul The Lost Symbol. Novel ini merupakan novel ketiga Dan Brown yang melibatkan tokoh Robert Langdon, seorang dosen symbologi dari Universitas Harvard setelah Angels and Demons dan The Da Vinci Code. Dan seperti dua novel sebelumnya tersebut, novel ini pun berisi tentang misteri dari arti-arti simbol kuno yang ada di Amerika. Dan kali ini, misteri yang diungkapkan adalah misteri tentang persaudaraan mason (saya sendiri tidak tau apa itu mason :D).

Continue reading ‘The Lost Symbol, Sebuah Kitab yang Hilang’

Ebook Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu

•25/04/2010 • 7 Comments

Apa yang istimewa dari ebook ini?

Ebook garapan 17 nuliser dari situs Yuk Nulis ini mengingatkanku pada ide blog interaktif yang dulu pernah aku usulkan di mobitrek dan sempat jalan sampai 24 episode. Konsep pengerjaannya hampir sama, yaitu menulis cerita secara sambung menyambung dan dilakukan oleh beberapa penulis yang berbeda sesuai dengan imajinasi masing-masing. Hanya bedanya, ebook ini ditulis oleh orang-orang yang sudah kompeten di bidangnya, hingga pergantian cerita dari setiap penulis hampir tidak kentara. Berbeda dengan blog interaktifku dulu yang sebagian besar ceritanya keluar dari alur bahkan tidak punya korelasi sama sekali dengan cerita sebelumnya. Meski begitu, rasanya tetap sayang sekali blog interaktif itu tidak bisa berlanjut karena situs mobitrek terlanjur mati suri sebelum semuanya selesai.

Sengaja ditulis untuk menyambut hari valentine bulan Februari kemarin, ebook ini bercerita tentang kisah cinta dua cewek kembar (Ayu dan Cantik) yang menyukai cowok yang sama (Bagus). Ceritanya ringan dan mengalir, seperti teenlite kebanyakan. Penulis-penulisnya yang berkompeten membuat cerita dalam ebook ini cukup bisa dinikmati tanpa terganggu sedikitpun dengan pergantian penulisnya. Hingga tibalah di saat-saat terakhir, cerita menjadi sedikit rancu saat muncul tokoh bernama Jiwa dan saudara kembarnya Raga, serta kabar bahwa salah satu diantara mereka adalah seorang gay. Disini mulai terlihat perbedaan arah cerita dari para penulisnya. Dan jujur saja, membacanya membuatku jadi senyum-senyum sendiri hehe.

Continue reading ‘Ebook Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu’

Ebook Antologi Puisi Mobitrek

•19/04/2010 • 1 Comment

Akhirnya selesai juga proyek pembuatan Antologi Puisi Mobitrek ini. Meski hasilnya belum sesuai yang aku harapkan karena belum berhasil membuat versi digibooknya, tapi untuk sementara aku sudah menuntaskan satu tugas dan bisa beralih ke tugas lain. Mungkin apresiasi mobitrekers yang lain tidak sebagus yang diharapkan, tapi dukungan dari beberapa orang rasanya sudah cukup mengobati jerih payah selama ini. Apalagi Pak Anto minta dikirimin filenya untuk diterbitkan jadi buku beneran. Hmm.. lumayan juga kalo ide kreatif (bisa juga disebut ide gila) Langga untuk menerbitkan Antologi Puisi Mobitrek dalam bentuk buku beneran bisa menjadi kenyataan.

Tadinya, aku ingin bercerita lebih banyak soal ebook ini. Tapi sudahlah.. yang penting sekarang semua orang sudah bisa mendownload ebook Antologi Puisi Mobitrek ini.

Andai Google dan Wikipedia Tak Pernah Ada

•15/03/2010 • Leave a Comment

Pernah enggak membayangkan seandainya Google (search engine) dan Wikipedia (ensiklopedia) tidak pernah ada di dunia maya ini? Kalau saya sih, jujur tidak bisa membayangkannya. Kenapa? Sebab bisa dikatakan hidup saya bergantung pada kedua situs tersebut. Selain kedua situs tersebut merupakan media pembelajaran saya tentang segala sesuatu, kedua situs itu pun punya peran yang besar bagi tulisan-tulisan saya dalam blog ini.

Pasti semua orang sudah tau apa fungsi Google dalam kehidupan kita. Hampir bisa dipastikan sebagian besar pengguna jasa internet adalah pengguna jasa Google. Menurut saya Google itu hampir sama dengan kantong ajaibnya Doraemon. Saat kita butuh sesuatu, kita tinggal memasukkan tangan ke dalam kantong tersebut dan keluarlah bermacam-macam barang yang sesuai dengan kebutuhan kita. Dalam hal ini, tentu bukan barang yang keluar melainkan informasi. Yup, apapun informasi yang ingin kita cari bisa kita dapatkaan di Google. Seperti kata salah satu teman saya, jika ada cara untuk mencari informasi dari kumpulan data yang setara dengan tumpukan kertas setinggi 100 km, hanya dalam waktu kurang dari setengah detik, maka cara itu pasti; “di Google aja !” (diambil dari notes di FB tanpa sepengetahuan pemiliknya :D)

Continue reading ‘Andai Google dan Wikipedia Tak Pernah Ada’

Ruang Tunggu #2

•14/03/2010 • 2 Comments

Jika malam adalah tempat dimana kita bisa meruangkan mimpi dan harapan,
maka engkau seumpama angin yang desau di setiap pucuk kemarau,
sementara tanah di ujung kakiku masih basah.
Hadirmu nisbi, sebab malam ini hanyalah ruang kosong yang tak akan kau singgahi.
Tak sempat kupetakan mimpi dan harapan pada langit hati,
ketika aku gagal membunuh sangsi dan mempersembahkan matahari
bagi jiwaku yang rapuh,
yang sinarnya abadi, tak seperti sorot matamu laksana bintang jatuh
menghadirkan harapan sementara di garis khatulistiwa janjimu luruh,
jadi abu.

Begitulah, hujan sore tadi seperti mengingatkan aku
bahwa malam adalah sebuah ruang tunggu
yang sepi.
Disini, aku hanya bisa menunggu musim berganti..

Februari 2010

Status

•10/03/2010 • 1 Comment

Pagi tadi, ibu menyinggung-nyinggung lagi soal status. Oh, ayolah, Bu.. aku sudah teramat bosan mendengarnya. Apakah status begitu penting hingga harus selalu kau dengung-dengungkan untuk menyalahkan pilihan hidupku? Aku telah memilih jalan hidupku sendiri beberapa tahun yang lalu, dan aku tak pernah menyesalinya. Aku tak pernah menyesalinya, Bu, meskipun kadang aku berpikir pilihan yang aku punya sungguh tak adil. Dan taukah kau betapa sulitnya mencoba untuk tidak menyalahkanmu atas semua pilihan hidupku ini?

Aku pun salah, sampai kini belum mampu menunjukkan padamu jalan hidupku yang lebih baik. Tapi teramat sulit bagiku berjalan sendirian di tengah keramaian jagad raya ini, sementara aku masih sibuk belajar menyembuhkan lukaku sendiri..